Resume Praktikum RE pertemuan ketiga

PERTEMUAN KETIGA

 

Materi : Mengukur komponen elektronika menggunakan avometer (multimeter)

Assalamu’alaikum.. pada postingan ini, saya akan sedikit mengulas kembali materi praktikum di pertemuan kedua (atau mungkin ketiga) untuk lebih tepatnya saya lupa, tapi jangan permasalahkan pertemuan ke berapanya, tapi lebih baik kita permasalahkan materi yang akan dibahas pada resume kali ini.

materi yang akan dibahas, yaitu tentang bagaimana sih mengukur komponen-komponen elektronika, yang nilainya itu mendekati ketepatannya. Apa alat yang akan digunakan untuk mengukur komponen-komponennya? Nanti akan dijelaskan di postingan ini..

 

  1. Mengukur komponen-komponen elektronika menggunakan AVOMETER

AVOMeter, dari namanya saja kita sudah bisa menebak sebenarnya apa sih fungsi dari avometer ini? AVOmeter sebenarnya dapat dikatakan sebagai singkatan, yaitu singkatan dari Ampere, Volt dan Ohm meter. Nah, berarti dapat disimpulkan, bahwa avometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur nilai ampere dari sebuah arus listrik, lalu mengukur nilai tegangan dari sebuah arus listrik dan mengukur besar suatu hambatan.

Setelah kita mengetahui seperti apa sih avometer itu? Oh iya, For Your Information juga, avometer biasa juga disebut dengan multimeter. Nah, selanjutnya adalah kita harus tau tentang bagian-bagian dari si avometer ini.

Nah, gambar diatas adalah bagian-bagian dari avometer. Ada :

  1. Skala jarum, digunakan untuk skala nilai yang dimiliki oleh avometer tersebut.
  2. Jarum, menunjukan nilai dari komponen yang kita ukur.
  3. Sekrup pengatur, untuk mengatur jarum agar tetap pada posisi 0, agar tidak keliru saat melihat nilai komponennya.
  4. Skala tegangan DC, OHM, AC, Arus DC. Adalah skala-skala yang digunakan untuk mengukur tegangan DC, OHM, AC, dan Arus DC.
  5. Saklar pemilih (selector), digunakan untuk memilih skala apa yang akan kita ukur, misalnya kita akan mengukur tegangan DC, maka posisikan saklar pemilih ke skala tegangan DC.
  6. Terminal, perangkat dari avometer yang akan digunakan saat proses pengukuran komponen berlangsung. Terminal merah, merupakan jarum yang bisa dibilang bermuatan positf, nah yang hitamnya bermuatan positif.
  7. Tombol pengatur nol ohm. Kalau di avometer biasa, bisa disebut dengan buzzer. Ini adalah tombol untuk mengatur pengukuran menjadi default, dari awal.

 

Nah, setelah kita mengenal seputar avometer. Kita langsung ke langkah selanjutnya, yaitu mengukur komponen elektronika dasar seperti diode, resistor, kapasitor, transistor,  dan mengukur baterai (tegangan DC).

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Mengukur Resistor
  2. Posisikan saklar pemilih pada skala OHM yang paling kecil.
  3. Tempelkan terminal pada masing-masing kawat resistor. Lalu perhatikan jarumnya, menunjukan ke skala berapa? Maka nilai resistansi resistor itu adalah skala yang ditunjukan oleh jarumnya.
  4. Jika jarumnya tidak bergerak, cobalah untuk memposisikan saklar pemilih pada skala ohm yang satu tingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Terus lakukan percobaan itu sampai menemukan nilai resistansi yang dirasa telah tepat, biasanya jika nilai pada skala pertama lebih kecil dari nilai pada skala kedua, maka nilai pada skala pertama kemungkinan nilai aslinya. Tapi alangkah lebih baiknya jika kita juga menghitung nilai resistansi dari cincin warnanya.

Tapi jika jarumnya tidak bergerak, maka kemungkinan besar resistornya putus.

 

  1. Mengukur Capasitor

Untuk mengukur capasitor, ada perbedaan antara avometer analog dengan avometer digital. Di avometer digital biasanya ada saklar pemilih yang farad (F), tapi di avometer analog tidak ada. Nah dalam postingan disini saya akan lebih menjelaskan menggunakan avometer analog.

  1. Posisikan saklar pemilih (selector) pada ohm.
  2. Jika jarumnya bergerak, maka itu membuktikan bahwa capasitor itu berfungsi. Tapi jika diam, maka kemungkinan besar capasitor itu tidak berfungsi.

Dalam hal ini, kita tidak terlalu mempertimbangkan nilai capasitansinya, tapi lebih menguji apakah kapasitor itu berfungsi atau tidak. Namun, jika kita menggunakan avometer digital, maka kita bisa mengukur nilai kapasitansinya, karena dalam analog sangat sulit untuk mengukur nilai kapasitansinya karena jarumnya tidak tetap diam pada satu skala. Tapi di avometer digital, dapat diukur dari nilai yang muncul paling banyak.

 

  1. Mengukur Dioda

Posisikan selectornya di simpan dinetral (buzzer), jika kita akan menggunakan avometer digital. Yang perlu diperhatikan saat mengukur diode adalah penempelan terminal pada setiap kawatnya. Dalam dioda kutub positif  adalah ujung kawat yang tidak ada warnanya, dan kutub negatif yang ujung kawatnya memiliki warna.

 

 

 

Lalu penempelan terminalnya juga harus positif tetap dengan positif dan negative dengan negative.

Dalam mengukur dioda, jika di analog kita hanya bisa sebatas menguji berfungsi atau tidaknya, tapi jika menggunakan digital, kita bisa mengukur nilai diodanya bergantung pada banyaknya nilai yang sering muncul.

 

  1. Mengukur Transistor

Dalam mengukur transistor juga terdapat perbedaan antara analog dan digital, dimana masih tetap berada pada pemosisian selector nya. Analog, maka posisikan selectornya ke ohm. Tapi jika digital, posisikan selectonya ke hFE.

 

 

Nah, dalam menentukan apakah transistor itu NPN atau PNP. Kita bisa mencoba-cobanya terhadap beberapa port yang ada di avometer tersebut. Ke PNP dulu, lalu bulak-balikan pinnya pada setiap portnya, nah jika jarumnya bergerak (analog) atau muncul nilai (digital) maka itu adalah jenis transistornya, lalu cek berapa nilainya, jika dalam beberapa percobaan terdapat nilai yang paling besar, maka itu adalah nilai , transistornya. Lakukan hal yang sama juga NPN, untuk menentukan apakah transistor itu NPN atau bukan.

 

  1. Mengukur tegangan DC (baterai)

Posisikan selector pada DCV (karena mengukur tegangan DC, jika mau mengukur tegangan AC, maka atur pada ACV).

Lalu lihat pada baterai tersebut berapa tegangannya, contohnya seperti pada gambar dibawah ini :

 

 

Dalam gambar diatas, terlihat tegangan dari baterai tersebut adalah 9 V, maka atur selectornya pada skala tegangan yang sedikit lebih tinggi dari besarnya tegangan baterai.

Tempelkan terminal avometer tersebut ke ujung-ujung baterai, perlu diingat, terminal avometer berwarna merah ditempelkan pada ujung kutub positif, begitupun sebaliknya.

 

No Comments

Resume Praktikum RE versi kedua

Resume Praktikum Rangkaian Elektronika

nah ini versi asli dari penjelasan yang tadi.. bedanya kalau ini ada beberapa gambar-gambar komponennya, kalau yang sebelumnya tidak ada gambar…
selamat membaca resumenya.. 🙂

No Comments

Resume Praktikum Rangkaian Elektronika

Pertemuan kesatu

Membahas silabus yang akan dipelajari pada praktikum rangkaian elektronika. Membahas juga tentang komponen-komponen elektronika, seperti kapasitor, transistor, dll.

Pertama yang dibahas mengenai Komponen Alat Elektronika dasar adalah, bahwa alat elektronika dasar dibagi menjadi dua bagian, yaitu komponen aktif dan pasif.

 

KOMPONEN AKTIF

Komponen aktif maksudnya adalah mau tidak mau, komponen itu harus bisa teraliri oleh arus listrik. Contoh komponennya yaitu :

Transistor

Beberapa fungsi Transistor diantaranya adalah sebagai Penguat arus, sebagai Switch (Pemutus dan penghubung), Stabilitasi Tegangan, Modulasi Sinyal, Penyearah dan lain sebagainya. Transistor terdiri dari 3 Terminal (kaki) yaitu Base/Basis (B), Emitor (E) dan Collector/Kolektor (K).

Dioda

Diode adalah Komponen Elektronika Aktif yang berfungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah dan menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Diode terdiri dari 2 Elektroda yaitu Anoda dan Katoda.

  • Dioda Zener

Dioda Zener digunakan secara luas dalam sirkuit elektronik. Fungsi utamanya adalah untuk menstabilkan tegangan. Pada saat disambungkan secara parallel dengan sebuah sumber tegangan yang berubah-ubah yang dipasang sehingga mencatu-balik, sebuah diode Zener akan bertingkah seperti sebuah kortsleting (hubungan singkat) saat tegangan mencapai tegangan tembus diode tersebut. Hasilnya, tegangan akan dibatasi sampai ke sebuah angka yang telah ditetapkan sebelumnya.

 

  • Dioda Penyearah

Dioda Biasa atau Dioda Penyearah yang umumnya terbuat dari Silikon dan berfungsi sebagai penyearah arus bolak balik (AC) ke arus searah (DC).

 

  • Diode LED

LED adalah singkatan dari Light Emiting Dioda (Dioda Pemancar Cahaya), banyak digunakan sebagai sebagai lampu indikator dan peraga (display).

Fungsi LED

Sebagai lampu Indikator pada peralatan elektronik

Led infrared untuk pengaman ruangan

  • Dioda Foto

Dioda Foto (Photo Diode) yaitu Dioda yang peka dengan cahaya sehingga sering digunakan sebagai Sensor.

 

  • Dioda SCR

Dioda Schottky (SCR atau Silicon Control Rectifier) adalah Dioda yang berfungsi sebagai pengendali .

 

  • Dioda Laser

Dioda Laser (Laser Diode) yaitu Dioda yang dapat memancar cahaya Laser. Dioda Laser sering disingkat dengan LD.

Integrated Circuit

IC (Integrated Circuit) adalah Komponen Elektronika Aktif yang terdiri dari gabungan ratusan bahkan jutaan Transistor, Resistor dan komponen lainnya yang diintegrasi menjadi sebuah Rangkaian Elektronika dalam sebuah kemasan kecil.

 

Fungsi IC juga beraneka ragam, mulai dari penguat, Switching, pengontrol hingga media penyimpanan. Pada umumnya, IC adalah Komponen Elektronika dipergunakan sebagai Otak dalam sebuah Peralatan Elektronika. IC merupakan komponen Semi konduktor yang sangat sensitif terhadap ESD (Electro Static Discharge).

 

 

KOMPONEN PASIF

Komponen pasif adalah komponen yang apabila tidak ada arus listrik yang mengalir, maka komponen itu akan tetap berfungsi sesuai fungsinya. Contoh komponennya adalah :

Resistor

Resistor atau disebut juga dengan Hambatan yang berfungsi untuk menghambat dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika. Satuan Nilai Resistor atau Hambatan adalah Ohm (Ω). Nilai Resistor biasanya diwakili dengan Kode angka ataupun Gelang Warna yang terdapat di badan Resistor.

Jenis-jenis Resistor diantaranya adalah :

  1. Resistor yang Nilainya Tetap
  2. Resistor yang Nilainya dapat diatur, Resistor Jenis ini sering disebut juga dengan Variable Resistor ataupun Potensiometer.
  3. Resistor yang Nilainya dapat berubah sesuai dengan intensitas cahaya, Resistor jenis ini disebut dengan LDR atau Light Dependent Resistor
  4. Resistor yang Nilainya dapat berubah sesuai dengan perubahan suhu, Resistor jenis ini disebut dengan PTC (Positive Temperature Coefficient) dan NTC (Negative Temperature Coefficient)

Kapasitor

Kapasitor atau disebut juga dengan Kondensator yang berfungsi untuk memilih gelombang radio pada rangkaian Tuner, sebagai perata arus pada rectifier dan juga sebagai Filter di dalam Rangkaian Power Supply (Catu Daya). Jenis-jenis Kapasitor diantaranya adalah :

  1. Kapasitor yang nilainya Tetap dan tidak ber-polaritas. Jika didasarkan pada bahan pembuatannya maka Kapasitor yang nilainya tetap terdiri dari Kapasitor Kertas, Kapasitor Mika, Kapasitor Polyster dan Kapasitor Keramik.
  2. Kapasitor yang nilainya Tetap tetapi memiliki Polaritas Positif dan Negatif, Kapasitor tersebut adalah Kapasitor Elektrolit atau Electrolyte Condensator (ELCO) dan Kapasitor Tantalum
  3. Kapasitor yang nilainya dapat diatur, Kapasitor jenis ini sering disebut dengan Variable Capasitor.

Induktor

Induktor atau disebut juga dengan Coil (Kumparan)memiliki fungsi sebagai Pengatur Frekuensi, Filter dan juga sebagai alat kopel (Penyambung). Induktor atau Coil banyak ditemukan pada Peralatan atau Rangkaian Elektronika yang berkaitan dengan Frekuensi seperti Tuner untuk pesawat Radio. Jenis-jenis Induktor diantaranya adalah :

  1. Induktor yang nilainya tetap
  2. Induktor yang nilainya dapat diatur atau sering disebut dengan Coil Variable.

 

 

  1. Pertemuan kedua

Membahas, atau lebih tepatnya latihan menentukan nilai resistansi pada suatu rangkaian yang diidentifikasi melalui gelang/pita yang dibuat oleh kelompok lain.

Daftar nilai setiap pita pada resistornya adalah sebagai berikut :

Warna Pita pertama Pita kedua Pita ketiga
(pengali)
Pita keempat
(toleransi)
Pita kelima
(koefisien suhu)
Hitam 0 0 × 100
Cokelat 1 1 ×101 ± 1% (F) 100 ppm
Merah 2 2 × 102 ± 2% (G) 50 ppm
Oranye 3 3 × 103 15 ppm
Kuning 4 4 × 104 25 ppm
Hijau 5 5 × 105 ± 0.5% (D)
Biru 6 6 × 106 ± 0.25% (C)
Ungu 7 7 × 107 ± 0.1% (B)
Abu-abu 8 8 × 108 ± 0.05% (A)
Putih 9 9 × 109
Emas × 10-1 ± 5% (J)
Perak × 10-2 ± 10% (K)
Kosong ± 20% (M)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada pertemuan kedua ini, digunakan empat pita warna untuk menghitung nilai resistansinya.  Ini terdiri dari empat pita warna yang dicetak mengelilingi badan resistor. Dua pita pertama merupakan informasi dua digit harga resistansi, pita ketiga merupakan pengali (jumlah nol yang ditambahkan setelah dua digit resistansi) dan pita keempat merupakan toleransi harga resistansi. 

 Sebagai contoh, hijau-biru-kuning-merah adalah 56 x 104Ω = 560 kΩ ± 2%. Deskripsi yang lebih mudah adalah: pita pertama, hijau, mempunyai harga 5 dan pita kedua, biru, mempunyai harga 6, dan keduanya dihitung sebagai 56. Pita ketiga,kuning, mempunyai harga 104, yang menambahkan empat nol di belakang 56, sedangkan pita keempat, merah, merupakan kode untuk toleransi ± 2%, memberikan nilai 560.000Ω pada keakuratan ± 2%.

 

 

Mungkin resume ini terlambat untuk di upload, maaf sebelumnya, karena sulitnya koneksi internet yang menyebabkan uploadnya harus jam segini.. 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No Comments

Hello world!

Welcome to Blog Civitas UPI. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

1 Comment